Pelatihan Komposting,Upaya Pembekalan Masyarakat Menghadapi Masalah Sampah Di Kota Bekasi


BEKASI,MEDIA NEWS INDONESIA-
Penampung Sampah Terbesar Di Indonesia. 
Diketahui bersama Kota Bekasi, merupakan kota penampung sampah dengan volume terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, bagaimana tidak jumlah sampah yang tertimbun di kota bekasi lebih dari 9300 Ton/hari yang berasal dari Jakarta 7500 Ton (di TPST Bantar Gebang) dan Kota Bekasi sendiri 1800 Ton (di TPA Sumur Batu). Dengan jumlah sampah yang begitu besar, dapat dipahami bila Kota Bekasi sering mengalami masalah lingkungan seperti polusi, munculnya bau yang tak sedap dan kebakaran gunungan sampah yang ada di TPST da TPA. 

Secara umum,komposisi timbulan sampah di Indonesia dan juga di Kota Bekasi adalah 57% sampah organik (55% berasal dari rumah tangga dan dari pasar 45%), dan 16 % sampah anorganik plastik yang walaupun volumenya relatif kecil namun berdampak besar terhadap kerusakan 
lingkungan, karena sulit hancur secara alamiah, juga karena telah menyebar dan mengkontaminasi secara luas baik di daratan sampai lautan, dalam berbentuk mikro plastik. Mikro plastik terbukti telah merasuki badan ikan dan hewan ternak lainnya yang biasa dikonsumsi manusia.Melalui proses rantai makanan mikro plastik dimungkinkan masuk kedalam tubuh manusia dan mengakibatkan berbagai penyakit mematikan seperti kangker.
Gerakan Bank Sampah Merupakan Alternatif Solusi Yang Tepat. Dari data dan fakta tersebut sangat benar bila pengelolaan sampah sebaiknya diprioritaskan pada sampah organik yang merupakan prosentase timbulan sampah terbesar dan pengendalian sampah anorganik plastik yang berbahaya. Gerakan Bank Sampah yang melibatkan masyarakat secara masif dalam pengelolaan sampah anorganik plastik (masih memiliki nilai ekonomis) sudah sangat tepat,namun dengan munculnya permasalahan baru yakni adanya timbulan sampah organik tak terkendali serta dampak mikro plastik yang sangat berbahaya, maka peran dan pemberdayaan Bank Sampah ada baiknya diperluas, sehingga dapat ikut berperan dalam pengelolaan sampah organik sekaligus sampah anorganik plastik. Bila mampu berinovasi, Bank Sampah kedepannya bisa menjadi mitra kerja strategis bagi Industri yang menggunakan plastik sebagai bahan baku produknya, seperti : paving block ,serat PE, Suku cadang, dl. 

Kolaborasi Menghadapin Masalah Sampah Dan Lingkungan Menyikapi masalah sampah dan lingkungan yang tengah dihadapi Kota Bekasi dan Sekolah lImu
Lingkungan (SIL) UI, Yayasan Pegiat Lingkungan (YPL) Rumah SOPAN dan Pemerintah Kecamatan Pondok Gede berinisiatif melakukan berkolaborasi dalam upaya meningkatkan kapasitas masyarakat khususnya yang tergabung dalam Bank Sampah dan Organisasi PKK di Wilayah Pondok Gede, dengan menyelenggarakan Pelatihan dan Workshop Proses Komposting Sampah Organik Rumah Tangga pada tanggal 6 Nopember 2024,bertempat di Balai Sinau Rumah SOPAN, JI Raya Kodau V,No 4,Jatimakmur,Pondok Gede, Kota Bekasi. 
Rumah SOPAN merupakan Yayasan Pegiat Lingkungan yang konsen terhadap upaya- upaya konservasi lingkungan perkotaan dan pengurangan sampah di sumber dalam hal ini rumah tinggal. 
YPL Rumah SOPAN, sering melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam penyelenggaraan program sosialisasi dan edukasi yang terkait peran aktif masyarakat dalam medukung upaya-upaya menyelesaikan masalah lingkungan yang terjadi khususnya di perkotaan. 

Beberapa program yang telah terlaksana diantaranya, Sosialisasi Gerakan Bank Program Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Penerapan Lubang Resapan Biopori, Penghijauan Dilahan Terbatas, Manajemen Bank Sampah, Mengembangkan Desa Ramah Lingkungan (Proklim) dan Sekolah Berbudaya Peduli Lingkungan (Adiwiyata). Kolaborasi penyelenggaraan pelatihan kali ini memiliki nilai tersendiri, karena didukung oleh SIL-Ul yang mempunyai kredibilitas dalam meluluskan ahli- ahli/pakar lImu lingkungan pada strata S2 dan S3. 
Bagi Dr.Dwinowo Sumartono, M.Si, selaku wakil SIL-UI sekaligus sebagai salah satu pembicara pada pelatihan, mengatakan bahwa SIL-UI memiliki kewajiban membantu dan memberikan konsultasi,pendampingan kepada siapapun (Pemerintah, Masyarakat,dan Komunitas) dalam menghadapi masalah lingkungan.Namun pada kolaborasi kali ini SIL-Ul memberikan apresiasi, karena semua pihak terkait; Pemerintah,Masyarakat dan Komunitas di Wilayah Pondok Gede memiliki komitmen yang sama dan 
bahu membahu dalam pengelolaan lingkungan dan sampah secara terintegrasi. 

Sementara pada kesempatan berdiskusi di sela pelatihan dengan Camat Pondok Gede ,Zaenal Abidin Syah,ST, MM,disampaikan bahwa upaya pengurangan dan pengelolaan sampah di wilayah Pondok Gede yang melibatkan masyarakat secara masif dan berkelanjutan, telah menjadi komitmen bersama. "Saat ini jumlah Bank Sampah di Kecamatan Pondok gede berjumlah 17 Unit ,InsyaAllah dalam waktu dekat akan bertambah menjadi 30,

Ditambah kader PKK dan Karang Taruna yang jumlahnya cukup banyak, maka kami sangat optimis akan dapat menyelesaikan secara terintegrasi masalah sampah dan lingkungan yang saat ini sedang kami hadapi. Membangun budaya Masyarakat Sadar Lingkungan (Masdarling) adalah target kami, untuk itu kita semua berharap kolaborasi yang terjalin baik ini harus terus dilakukan", demikian disampaikan Camat Pondok Gede. 
Masalah lingkungan adalah masalah bersama, untuk itu harus diselesaikan secara bersama pula. Salam lingkungan.!!!(Sup).

Postingan populer dari blog ini

Keluhan Warga Wisma Asri Rw.02 Teluk Pucung Meminta Keadilan Kepada Gubenur Jawa Barat Terkait Penggusuran

Hayooo Bergabung Di'RICH'Jatiwaringin,Sekolah Perhotelan dan Kapal Pesiar

Tasyakuran Taman Merdeka PKP.2 RW.04 Jatibening Baru,Warganya Bilang Begini...