Pelayanan Kesehatan Terganggu,Kerusakan Alat Gigi Puskesmas Jatikramat Disorot Publik
BEKASI,MEDIA NEWS INDONESIA-Kepala Puskesmas Jatikramat, dr. Reni, memberikan klarifikasi terkait keluhan masyarakat atas terhentinya layanan tindakan di poli gigi akibat kerusakan alat medis. Ia menegaskan bahwa tidak ada unsur pembiaran dalam persoalan tersebut dan pihak Puskesmas telah mengambil langkah sesuai prosedur.
“Terima kasih atas informasinya. Memang benar kami sedang off beberapa hari untuk tindakan di poli gigi karena alat sterilisasi kami sedang rusak. Untuk pembiaran itu sama sekali tidak ada,” ujar dr. Reni dalam keterangannya. Rabu (17/12/2025)
Ia menjelaskan, kerusakan alat sterilisasi telah dilaporkan secara resmi ke Dinas Kesehatan Kota Bekasi, dan pihaknya telah mendapatkan arahan untuk melakukan peminjaman alat dari Puskesmas lain melalui mekanisme surat menyurat ke Dinkes.
“Hal ini sudah saya tindaklanjuti ke Dinkes dengan melaporkan alat rusak dan mendapat arahan untuk peminjaman alat dari Puskesmas lain dengan bersurat ke Dinkes,” jelasnya.
Namun demikian, dr. Reni mengungkapkan adanya kendala struktural terkait anggaran pemeliharaan alat sterilisator.
“Masalah biaya pemeliharaan alat sterilisator memang tidak ada di Puskesmas,” ungkapnya.
Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi dan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan ke depan.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Semoga kami bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi,” tandasnya.
Sebelumnya, sejumlah peralatan penunjang pelayanan kesehatan di Puskesmas Jatikramat dilaporkan dalam kondisi rusak. Salah satu yang paling krusial adalah alat penambal gigi yang tidak dapat digunakan, sehingga menghambat pelayanan kesehatan gigi bagi pasien.
Seorang pasien bernama Ati, warga Jatikramat, mengaku kecewa saat membawa anaknya untuk pemeriksaan gigi. Niat awal untuk melakukan penambalan gigi harus batal lantaran alat medis tersebut rusak.
“Saat periksa, pihak Puskesmas bilang mesin penambal gigi rusak dan belum tahu kapan bisa dipakai kembali,” keluh Ati.
"Menurut Ati, pihak Puskesmas menyampaikan bahwa kerusakan alat sudah dilaporkan kepada atasan, namun hingga saat ini belum ada kepastian waktu perbaikan.
“Katanya sudah dilaporkan ke atasannya soal alat rusak, tapi belum ada tindak lanjutnya,” tambahnya.
Akibat kondisi tersebut, anak Ati tidak mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan gigi tidak dapat dilakukan secara optimal dan pasien hanya diberikan obat sebelum dipersilakan pulang.
“Enggak jadi ditambal gigi anak saya gara-gara mesinnya rusak. Akhirnya cuma dikasih obat sama Puskesmas,” ujarnya.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya publik terkait pengelolaan dan ketersediaan anggaran pemeliharaan peralatan medis di Puskesmas, yang semestinya menjamin seluruh sarana kesehatan dalam kondisi layak pakai.
Situasi tersebut juga dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi Dinas Kesehatan Kota Bekasi, khususnya dalam hal pengawasan, pemeliharaan fasilitas kesehatan, serta komitmen terhadap pelayanan publik yang prima dan berkelanjutan.((Sup).